Tokoh  

Abah Thoyib dan Filosofi Kopiah Putih

M. Rizal Zunianto
abah-thoyib
Kiai Abdullah Faqih Langitan dan Abah Thoyib Krian (Foto: NOJ/ Halaqoh.net)

Seperti biasanya, abah Thoyib Krian menemui tamu dari berbagai daerah. Ruang tamu yang dipusatkan dalam kamar berpintu mungil itu penuh. Tiba-tiba terdengar suara meninggi dari Abah Thoyib kepada salah satu tamu berkopiah hitam yang dikenal dengan Cak Kaji.

“Riko iku wes munggah kaji, nek mrene maneh gak oleh nggawe kopiah ireng” (kamu itu sudah naik haji, kalau ke sini lagi tidak boleh menggunakan kopiah hitam). Tegas beliau.

Cak Kaji itu pun hanya menunduk tidak berani membantah dan tidak menanyakan alasannya. Kejadian ini disaksikan oleh tamu yang lain sehingga menjadi peraturan tak tertulis bagi siapa saja yang akan sowan ke Sumengko. Khususnya yang sudah naik haji.

Beberapa waktu kemudian, ayah saya sowan ke Abah Thoyib. Sesampainya di Sumengko, beliau buru-buru membuka sunvisor (penahan sinar matahari) mobil. Ternyata yang dicari adalah kopiah putih.

“Waduh, kopiah putihku ketinggalan”, kata ayah.

Tiba di depan gerbang ndalem, muncul khodam yang kebetulan kenal akrab dengan ayah.

“Cak, kapan tekoe?” tanya khodam itu.

“Siktas iki kate sowan”, jawab ayah

“Tapi aku gak nggowo kopiah putih”, terangnya

“Iki nggawe kopiahku ae’, ucap khodam menawarkan kopiahnya.

Secepat kilat ayah meminjam kopiah putih milik khodam…….

Selengkapnya Kunjungi Sumber : https://jatim.nu.or.id/tokoh/abah-thoyib-dan-filosofi-kopiah-putih-CzAgJ

Baca Juga :  Negosiasi Mbah Wahab kepada Malaikat Izrail Jelang Muktamar NU